Pemerintahan SBY Gagal Mencapai Swasembada Pangan

0
2065
Swasembada Pangan Indonesia

Smeaker.com – Pemerintahan SBY yang berkuasa selama dua dekade dan di akhir masa jabatannya yakni pada 20 Oktober 2014 mendatang pemerintahannya dinilai telah gagal dalam mencapai swasembada pangan di Indonesia. Bahkan pengadaan impor pangan oleh pemerintahan terakhir ini menunjukan jumlah yang cukup besar. Hal tersebut tentu tidak sesuai dengan program swasembada pangan SBY.

Program swasembada lima komoditas pangan diantaranya beras, jagung, gula, kedelai serta daging sapi yang telah digembor-gemborkan sejak tahun 2010 dengan target pencapaian pada tahun 2014 ini nyatanya tidak dapat terealisasi dengan baik. Hal tersebut salah satunya di picu impor pangan yang terus menerus dalam jumlah besar dan penyempitan lahan pertanian yang dialifungsikan.

Salah satu pengamat pertanian yakni Khudori menyebutkan bahwa target swasembada lima komoditas belum tercapai. Jikalau telah diklaim sudah swasembada beras, tidak akan bisa karena target surplus beras adalah 10 juta ton pada tahun 2014 ini. Sementara tidak sampai akhir tahun hanya 2 juta ton yang mampu dicapai.

Swasembada sendiri diartikan apabila 90 persen pasokan akan komoditas pangan terpenuhi dari hasil produksi di dalam negeri. Sementara jumlah atau porsi untuk impor akan barang tersebut hanya 10 persen. Namun yang terjadi di Indonesia adalah impor gula mencapai 30 pesen, selain itu kedelai dan daging sapi masih mengandalkan impor dari negara lain. Namun beras, jagung dan bawang merah masih dipasok dari dalam negeri.

Menurut Khudori hal tersebut dikarenakan terrjadinya ketimpangan antara produksi dalam negeri dengan permintaan yang memaksakan pemerintah harus mendatangkan impor akan barang dalam kapasitas yang besar. Hal tersebut dilakukan tentunya untuk memenuhi kebutuhan didalam negeri.

Selama 10 tahun menjabat sebagai Presiden Indonesia, SBY belum dapat mencapai prestasi di sektor pertanian. Mulai dari kebijakan impor yang dilakukannya hingga defisit neraca perdagangan di sektor pertanian.

Khudori juga mengungkapkan Impor yang dilakukan masih sama dengan 9 tahun lalu untuk komoditas itu itu saja sementara infrastruktur tidak bertambah malah berkurang. Sementara neraca perdagangan yang defisit dikarenakan berbagai perjanjian perdagangan bebas yang akhirnya menjadi bumerang untuk kita sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here