Impor Pangan Indonesia Diperkirakan Capai Rp 1.500 Trilliun

0
1469
Impor Pangan di Indonesia

Smeaker.comImpor pangan Indonesia memang terus mengalami peningkatan. Namun jika Indonesia sendiri tidak bisa mandiri dalam mengolah sumber daya alam (SDA) dan lahan pertanian yang ada dengan lebih baik dan bijaksana maka diperkirakan impor pangan yang dilakukan akan meningkat drastis dalam jumlah yang besar hingga 5 tahun mendatang.

Ismed Hasan Putro selaku Dirut PT Rajawali Indonesia (RNI) menuturkan bahwa jika produksi pangan nasional tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat maka pada tahun 2020 Indonesia diperkirakan mau tidak mau harus lakukan impor pangan senilai Rp 1.500 triliun.

Di tahun 2020 impor kebutuhan dan komoditas pangan semakin besar seperti kebutuhan daging, beras, terigu bahkan ikan asin dan jengkol yang nilai kesemuanya dapat mencapai Rp 1.500 triliun. Lahan produksi yang kian kecil dan pertambahan jumlah penduduk yang kian banyak tidak dapat mengimbangi produksi pangan yang dihasilkan.

Seperti yang kita ketahui banyak lahan pertanian yang telah beralih fungsi. Seperti di daereah pedesaan yang lahan pertaniannya cukup luas nyatanya kini semakin sempit dengan banyaknya pembangunan perumahan yang kini telah masuk pedesaan. Selain itu lahan pertanian di Sumatera Selatan juga banyak yang dialih fungsikan menjadi lahan perkebunan sawit. Sehingga semakin hari lahan pertanian di Indonesia semakin kecil padahal Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Namun nampaknya sebutan tersebut sudah tidak sesuai dengan keadaan Indonesia.

Ismed juga menjelaskan bahwa hal tersebut tidak sejalan dengan program kedaulatan pangan yang telah digagas Joko Widodo. Jika kita berdaulat di padi maka akan terus melakukan impor dari negara Vietnam. Bahkan Indonesia sendiri masih menggantungkan kebutuhan gandum dari Amerika Serikat, Jengkol dari Malaysia dan juga komoditas kedelai yang masih menggantungkan impor.

Untuk itu tentunya Indonesia membutuhkan banyak perusahaan yang dapat bergerak didalam indsutri yang terfokus pada sektor pangan di Indonesia. Hal tersebut tentunya akan menopang dan mengganti pekerjaan petani yang banyak beralih profesi mengingat semakin sempitnya lahan pertanian yang ada di negara kita.

Ismed juga menambahkan bahwa pemerintah harus tetap fokus di bisnis pangan. Untuk itu Indonesia membutuhkan korporasi yang bergerak di industrialisasi pangan. Hal ini memang sudah tidak bisa lagi diserahkan kepada para petani karena banyak yang alih profesi dan masih bersifat konservatif. Untuk itu BUMN harus bergerak di untuk sektor ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here